Khamis, 10 Februari 2011

Hidayah Milik Allah

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, mungkin kita sering berfikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?

Mengenai hal ini, perlu kita ketahui, hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah. Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.

Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin menerangkan, “Hidayah di sini maknanya adalah hidayah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mesti mengikuti hikmah-Nya.”

Nabi Yang Mulia Sendiri Tidak Dapat Memberi Hidayah Taufik

Turunnya ayat ini berkenaan dengan cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bapa saudara nya Abu Thalib. Akan tetapi, segala cara dan upaya yang dilakukan beliau untuk mengajak bapa saudara nya kepada kebenaran, tidak sampai membuat bapa saudara nya menggenggam Islam sampai ajal menjemputnya. Seorang rasul yang kita tahu kedudukannya di sisi Allah saja tidak mampu untuk memberi hidayah kepada bapa saudara nya, apalagi kita yang keimanannya sangat jauh dibandingkan beliau.

Tidakkah kita melihat perjuangan Nabi Allah Nuh di dalam menegakkan tauhid kepada umatnya? Waktu yang mencapai 950 tahun tidak dapat menjadikan umat nabi Nuh mendapatkan hidayah Allah, bahkan untuk keturunannya sendiri pun ia tidak dapat menyelamatkannya dari adzab, Allah berfirman yang artinya “Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh, ‘Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir’. Dia berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menghindarkanku dari air bah. Nuh berkata, ‘Hari ini tidak ada lagi yang bisa melindungi dari adzab Allah kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang pun menghalangi mereka berdua, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud:42-43)

Melihat anaknya yang tenggelam, Nabi Nuh berdoa (yang artinya),“Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud: 45-46)

Contoh lainnya adalah apa yang dialami oleh Nabi Allah, Ibrahim. Berada ditengah-tengah orang-orang yang menyekutukan Allah, ia termasuk orang yang mendapat petunjuk. Allah dengan mudahnya memberikan hidayah kepada seseorang yang dikehendakinya, padahal tidak ada seorang pun yang mengajarkan dan menerangkan kebenaran kepadanya, Allah berfirman yang artinya “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Aku tidak suka pada yang tenggelam’. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku, ini lebih besar’. Tatkala matahari itu terbenam, dia pun berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya’.” (QS. Al-An’am: 75-79)

Dari hal ini, sangat jelaslah bagi kita, hidayah hanyalah milik Allah, dan Allah memberi hidayah kepada orang yang dikehendakinya. Barangsiapa yang Allah beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memberi hidayah kepadanya. Allah berfirman yang artinya “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213) dan Allah berfirman yang artinya “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23).

Cara Menggapai Hidayah

Setelah mengetahui hal ini, lantas bagaimana upaya kita untuk mendapatkan hidayah? Bagaimana caranya membuat orang lain mendapatkan hidayah?

Di antara sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah:

1. Bertauhid

Seseorang yang menginginkan hidayah Allah, maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allah berfirman yang artinya “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-an’am:82).

2. Taubat kepada Allah

Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Allah memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”.

3. Belajar Agama

Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama” (HR Bukhari)

4. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang.

Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Allah berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa: 66-68).

5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya.

Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra:9)

6. Berpegang teguh kepada agama Allah

Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imron:101).

7. Mengerjakan sholat.

Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Allah adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Allah berfirman pada surat al-baqarah yang artinya “Aliif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Siapa mereka itu, dilanjutkan pada ayat setelahnya “yaitu mereka yang beriman kepada hal yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkah sebagian rezki yang diberikan kepadanya” (QS. Al-baqarah:3).

8. Berkumpul dengan orang-orang sholeh

Allah berfirman yang artinya “Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am:72).

Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Allah berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Allah dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek. “

Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah. Syaikh Abdullah Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Penulis: Rian Permana

Khamis, 27 Januari 2011

Maher Zain - Insha Allah | Insya Allah | ماهر زين - إن شاء الله

IHSAN DALAM KEHIDUPAN

Adapun yang dimaksud ihsan bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada Allah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril :

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »

“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102).[3]

Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah. Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.

Adapun kadar ihsan yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada Allah memiliki dua tingkatan, yaitu :

Pertama, tingkatan muroqobah.
Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya
Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yunus,

وَمَاتَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَاتَتْلُوا مِنْهُ مِنْ قُرْءَانٍ وَلاَتَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ  …{ 61 }

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (QS. Yunus: 61)

Kedua, tingkatan musyahadah

Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang senantiasa memeperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda Nabi  أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاه (‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya).Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, tidak sebagaimana keyakinan orang-orang sufi. Yang mereka sangka dengan tingkatan musyahadah adalah melihat dzat Allah. Ini jelas merupakan kebatilan. Yang dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat Allah, yakni dengan memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan
Makna dari firman Allah وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ   ( dan orang-orang yang berbuat ihsan) adalah yang mentaati Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat dan tujuan dalam beribadah serta melaksankanan syariat Allah dengan petunjuk yang telah dijelasakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {195}

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al Baqarah:195)

Termasuk di dalamnya juga adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimnan sabda Nabi ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.. Barangsiapa yang memiliki sifat ihsan tersebut, maka dia tergolong orang-orang yang Allah terangkan dalam firman-Nya  لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ  “Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta’ala)” (QS Yunus: 26) Allah akan bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya dalam setiap urusannya.

llah Ta’ala juga berfirman,

وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا {29}

“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 29)

Rabu, 26 Januari 2011

STATUS WANITA SEBAGAI PEMIMPIN MENURUT ISLAM

Oleh :Ust Zaharuddin Abd Rahman

Imam Al-Mawardi r.a [1] (450 H) menjelaskan jawatan seperti Perdana Menteri atau juga menteri ketenteraan adalah tidak dibolehkan bagi wanita serta tidak sesuai dengan kemampuan sifat mereka terutama apabila melibatkan ketenteraan. Beliau juga menyenaraikan sifat ‘lelaki' sebagai salah satu daripada 10 syarat kepada kepimpinan di peringkat ‘tafwid' tetapi tidak di peringkat ‘tanfiz'.

Menurut Imam Hasan Al-Banna [2], wanita tidak dibenarkan menjawat apa-apa jawatan di wilayah ‘ammah atau wazarah tafwid seperti kepimpinan ketenteraan (wilayah jihad), wilayah hisbah, wilayah kehakiman, wilayah haji, wilayah kharaj dan lain-lain bentuk umum. Selain dalil-dalil biasa dari Al-quran dan al-Hadtih, beliau juga berdalilkan ijma’ amali yang menunjukkan bahawa sejak zaman Rasul SAW, baginda tidak pernah melantik kepimpinan umum di kalangan wanita dan hal ini berterusan hinggalah jatuhnya empayar Islam Uthmaniyyah. Malah Rasulullah SAW dan para sahabat juga tidak pernah melantik ahli kenggotaan syura ( ahl al-hal wal aqd ) dari kalangan wanita.

Dr. Abd Qadir Abu Faris (Ahli Parlimen Ikhwan Muslimin Jordan sekarang) juga berpandangan seperti Imam Hasan Al-Banna. Beliau menguatkan pandangan Imam Hasan dengan membawakan persitiwa Bai’ah Aqabah Kedua dimana Rasulullah SAW telah memilih 12 orang ketua dan tidak pun melantik wanita sekalipun mereka hadir berbaiah. Begitu juga ketika Rasul SAW menghimpun sahabat dalam memutuskan keputusan dalam peperangan Uhud, Ahzab, “Fath Makkah” , Perang Hunain dll, Rasul tidak pun meminta pandangan dari kaum wanita. Dr. Abd Qadir bukan sahaja tidak menyetujui kepimpinan wanita di peringkat tafwid malah juga pringkat tanfiz. [3].


Dr. Yusoff Al-Qaradhawi dalam kitabnya Min Fiqh al-dawlah fil Islam, mempunyai pandangan yang sedikit berbeza, beliau berpandangan bahawa dalam konteks kepimpinan dunia hari ini, beliau lebih cenderung mengharuskan wanita memegang kesemua jawatan termasuk Perdana Menteri dengan beberapa syarat.


Antara hujjah Dr. Yusoff Al-Qaradhawi dan mereka yang mempersetujui keharusan ini adalah seperti berikut :-


1. Kisah kepimpinan wanita di peringkat tertinggi iaitu Ratu Balqis, digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita tertinggi negara yang berwibawa serta mampu membawa kaumnya kepada kebaikan dunia akhirat. Firman Allah SWT:


قالوا نحن أولوا قوة وأولوا بأس شديد والأمر إليك فانظري ماذا تأمرين (النمل :33)

قالت رب إني ظلمت نفسي وأسلمت مع سليمان لله رب العالمين (النمل: 44)

Mafhum : Berkatalah kami (lelaki) yang mempunyai kekuatan, sesungguhnya kami serahkan urusan ini kepdamu ( ratu balqis) …” berkatalah Balqis “ Demi Tuhanku sesungguhnya aku telah berlaku zalim terhdp diriku nescaya kini aku akan beriman kepada Allah bersama Nabi Sulaiman” ( An-Naml 33 dan 44)


2. Mempersoalkan sifat umum pada hadith riwayat Bukhari tadi dengan hujjah :

a. Beliau menyatakan bahawa perkara menggunakan umum hadith untuk melarang kepimpinan dari kalangan wanita adalah tidak disepakati sepenuhnya. Selain itu, sekiranya ia diambil dengan pengertian umum lafaz sahaja maka akan bertentangan dengan kisah tawladan Ratu Balqis sebagai pemimpin tertinggi yang berjaya. Ratu Balqis digambarkan oleh Allah sebagai berkata :


قالت ياأيها الملأ أفتوني في أمري ما كنت قاطعة أمرا حتى تشهدوني(32)

Mafhum : “Wahai pembesar berikanlah pandangan kepadaku dalam urusan ini, aku tidak pernah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu hadir memberi pendapat dan mempersetujuinya” ( An-Naml 32)


b. Mengambil kaedah fiqhiyyah العادة محكمة dan bersandarkan kepada fiqh waqi’ , reality hari ini kebanyakan wanita menyumbang kebaikan yang banyak untuk negara malah adakalanya lebih daripada lelaki, bahkan mereka juga ada yang lebih berkelayakan dari pelbagai sudut berbanding lelaki.

Ini bermakna, kita perlu memahami hadith dan sunnah fi’liyah Rasulullah SAW berdasarkan ‘mulabasat’ atau suasana zaman dan kemampuan wanita ketika itu. Hasilnya, Al-Qaradhawi seolah-olah cuba memberi isyarat di sini, bahawa isu hukum kepimpinan wanita adalah isu furu’ yang boleh berubah menurut peredaran zaman, apa yang penting adalah syarat KEMAMPUAN DARI PELBAGAI SUDUT tanpa menjadikan JANTINA SEBAGAI PUNCA PERBEZAAN UTAMA DAN KELAYAKAN.


3. Hadith tadi juga memberi kefahaman bahawa ketika wujudnya Khilafah Islamiyyah, wanita memang kelihatan amat kurang sesuai menjadi imamah uzma iaitu khalifah walaupun di ketika zaman ini. Hal ini sememangnya disepakati larangannya, tetapi selepas ketiadaan khilafah tahun 1924 M, sebahagian ulama’ telah meng‘qias’ kan kepimpinan ratu Balqis sebagai Presiden yang punyai kuasa dalam memberi persetujuan terhadap sebarang pelaksanaan dasar. Justeru, dalam ketiadaan khilafah, negara-negara umat Islam hanyalah bertaraf seperti Gabenor di wilayah yang terhad. Sehubungan dengan itu, wanita boleh memegang jawatan menteri, Qadhi atau lain-lain.


4. Dalam masyarakat di bawah system demokrasi hari ini, apabila wanita dilantik ke jawatan kementerian, Parlimen, Pentadbiran atau lainnya, ia tidak bermakna ia memegang jawatan ini secara veto, hakikatnya ia adalah kepimpinan secara kolektif, yang mempunyai sebuah institusi dalam menentukan tindakan. Justeru, menurut al-Qaradhawi, ia tidak bertentangan dengan Hadtih walau menurut apa jua tafsiran.


Prof Dr. Mohammad Hashim Kamali (UIA) pula berpandangan wanita dibenarkan memegang semua jawatan kepimpinan kecuali Perdana Menteri dan jawatan hakim. Manakala jawatan-jawatan lain seperti gabenor, wilayah hisbah, wilayah mazalim adalah perkara yang diperselisihkan antara ulama’. [4]


Al-Imam As-Syawkani (1255 H) di dalam Nailul Awtar menyatakan selain hadith di atas yang menjadi dalil tidak harus wanita memegang tampuk tertinggi pemerintahan, fuqaha’ juga berdalilkan satu hadith lain iaitu Mafhumnya :


Dari Buraidah dari Nabi SAW : “Qadhi (hakim) itu tiga, satu di dalam syurga, dau darinya di dalam neraka, maka mereka adalah lelaki yang mengetahui kebenaran lalu menghukum dengan nya,…..” ( Riwayat Ibn Majah, Abu Daud, Tirmizi, Nasaie dan al-Hakim [5])


Lafaz kalimah “Qadhi” (kalimah khas untuk lelaki sahaja dalam bahasa arab) yang diguna di dalam hadith ini membuktikan jawatan qadhi dan hakim terhad hanya untuk kaum lelaki, demikian juga pemerintah.


KESIMPULAN PENULIS


Demikianlah serba sedikit perbezaan pandangan para ulama’ Islam dalam menentukan kedudukan wanita di peringkat tertinggi, ia adalah berpunca daripada perbezaan pandangan mereka dalam menentukan kaedah terbaik dalam menjaga maslahat umat, sebagai kesimpulan, penulis berpandangan seperti berikut :-


1) Pertamanya, semua pihak perlu menyedari bahawa urusan pendidikan anak-anak, adalah terlalu amat penting sebenarnya. Ia hakikatnya satu medan yang sangat sesuai dengan fitrah wanita. Justeru sekiranya wanita yang berkelayakan ini memimpin institusi keluarga, dan lelaki yang berkelayakan pula memimpin sebuah negara dan rakyatnya, inilah bentuk ideal dan menurut Islam, sunnah Rasul SAW dan tepat pula menurut hukum logik aqal. Tambahan pula lelaki secara semulajadi cukup sesuai untuk menanggung tugas tersebut jika diteliti dari sudut tenaga, mental dan fizikal mereka, manakala wanita pula sememangnya sangat sesuai untuk memimpin institusi pendidikan anak-anak bersendikan seni halus mereka, terutamanya apabila kepada kemampuan fizikal yang terhad, serta maruah sebagai wanita yang sangat mudah tercemar dan dicemari, lalu amat sesuai kiranya difokuskan ke bidang tersebut, dan sekiranya antara dua bidang (keluarga oleh wanita dan rakyat oleh lelaki) ini gagal dijaga dengan baik maka sudah tentu negara amat sukar memperolehi kebaikan.


Bidang institusi keluarga, pendidikan anak dan menjaga keamanan rumah tangga WAJIB TIDAK DIPANDANG REMEH, malah ia sebenarnya amat sukar, mungkin hampir menyamai kepimpinan sebuah negara. Pandangan remeh terhadapnya adalah kesilapan utama wanita moden zaman kini hingga terlalu berhasrat menjaga negara sedangkan anak-anaknya menjadi perosak Negara akibat terlepas dari jagaan yang terbaik.


2) Isu halangan wanita dari menjadi pemimpin tertinggi adalah merupakan perkara cabang yang dibenarkan untuk berijtihad dalam menentukan hukumnya, Jika dilihat daripada umum lafaz hadith, menurut jumhur ulama’ Usul Fiqh (kecuali menurut ulama’ Hanafiah), lafaz umum ini membawa ‘Dalalah Zanniyyah’, maka adalah harus untuk berikhtilaf dalam menentukan hukumnya, ini bermakna pendapat ulama yang melarang tidaklah bersifat qat’ie (putus) [6].


3) Menurut pengamatan penulis terhadap hujjah Dr Yusoff Al-Qaradhawi, ia kelihatan agak kukuh dan lebih sesuai menurut suasana hari ini, di samping ternyata ia adalah hasil kefahaman mendalam terhadap Ruh Tasyri’ serta tidak jumud di hadapan lafaz nusus. Justeru penulis menyokong pandangan yang membenarkan wanita menjadi pemimpin dengan syarat-syarat tertentu. Antara syarat yang diletakkan oleh beliau adalah (dan setengahnya adalah tambahan penulis) :-


a- Dr. Yusof al-Qaradhawi menyatakan syarat kepimpinan wanita, adalah mereka tidak gagal dalam mentadbir anak-anak hinggakan beliau meletakkan umur sekitar 45 ke atas adalah umur yang sesuai.

b- Tiada pemimpin lelaki yang lebih layak untuk menyandang jawatan tersebut pada ketika tersebut.

c- Pemimpin wanita ini mestilah tidak membuat keputusan secara peribadi dalam memutuskan hal-hal besar negara, bahkan mestilah membuat keputusan secara kolektif dan syura bersama pemimpin pelbagai peringkat.

d- Wanita yang terlibat dalam hal kepimpinan sudah tentu akan berlaku percampuran yang banyak dengan kaum lelaki maka, menjadi kewajiban baginya untuk memelihara adab-adab Islam semasa keluar rumah seperti menutup aurat dengan sempurna, tidak berwangian berdasarkan hadith :-

“أيما امرأة استعطرت فمرت على قوم ليجدوا ريحها فهي زانية وكل عين زانية "

Ertinya : “Mana-mana wanita yang berwangian lalu keluar rumah dan lalu di hadapan satu kaum (lelaki) dengan sengaja untuk menarik perhatian mereka, maka dosanya adalah seperti dosa zina” [7]

e- Mendapat kebenaran suami untuk berbuat demikian.


Apapun, kesesuaian persekitaran merupakan faktor penting dalam menentukan keharusan wanita samada dalam menjadi pemimpin (bukan peringkat tertinggi dan bukan qadhi, hakim – menurut sesetengah ulama), calon, ahli parlimen dan sebagainya, kerana WALAUPUN IA BOLEH DIKATAKAN HARUS PADA ASASNYA, tetapi ia mungkin menjadi haram kerana sebab-sebab luaran yang mendatang, ia disebut ‘Haram Li Ghairihi’ di dalam ilmu Usul Fiqh. Penulis juga merasakan, meletakkan hukum yang umum merangkumi semua karakter wanita dalam hal ini adalah kurang sesuai di waktu ini, sebaliknya keharusan tertakluk kepada kriteria syarat-syarat yang ditetapkan.